Dalam buku dituliskan fragmen-fragmen cerita perjalanan Kiai Samsul sebagai pelajar, sebagai aktivis GP Ansor, pekerja, guru, suami hingga ‘pelayan spiritual’ bagi para tamu-tamunya dari siswa SMA, pejabat, preman hingga perempuan pekerja seks komersial.

Tentulah banyak hal yang belum tersingkap dalam sisi pribadi Kiai Syamsul. Apalagi selama hidupnya Kiai Syamsul memang sangat mahir ‘menyembunyikan’ (kebaikan) diri. Ia bahkan mewanti-wanti anak, murid dan orang dekatnya untuk merahasiakan itu ketika ia masih hidup.

Kiai kampung ini selama hidupnya jarang yang menyebutnya Kiai. Lebih banyak para muridnya, warga sekitar hingga orang yang meminta sembur, wuwur, pitutur hingga ‘jimat’ tolak melarat, tolak utang hingga penglarisan menyebutnya Bapak. Banyak yang terbilang aneh, anomali hingga janggal ketika membaca fragmen cerita-cerita dari Pak Syamsul sebagai ‘bapak semua orang’.

Narasi-narasi kecil dalam buku ini menghimpun kesaksian para orang dekat ataupun orang yang pernah berinteraksi dengan Kiai Syamsul. Silakan pembaca mengambil hikmah dari sekitar lebih dari 30-an judul lakon cerita yang melibatkan orang dekat dengan Kiai Syamsul. Ya sosok kiai kampung menjadi bapak dari para warga sektiar dan kini